(2010) The First Grader-Blueray720px



Mendengar Pemerintah Kenya mengabarkan kebijakan pendidikan gratis untuk warganya, sontak anak-anak dengan diantar orang tuanya berduyun-duyun ke sekolah terdekat untuk mendaftar. Tak terkecuali Maruge yang mendatangi sekolah dengan antusias untuk mendapatkan hak belajarnya, walaupun harus berjalan dengan tertatih-tatih. Namun niat mulia ini tidak serta merta berjalan mulus. Sesampainya di pintu gerbang, yang didapatinya adalah penolakan dari pihak sekolah. Pihak sekolah bersikeras bahwa kebijakan tersebut hanya untuk anak-anak usia sekolah, sementara Maruge sendiri sudah berusia 84 tahun.
Sebenarnya apa yang mendasari semangat Kimani Ng’ang’a hingga bertekad baja untuk duduk di bangku sekolah dalam usia yang sudah terbilang lanjut, mata sudah rabun, dan pendengaran sudah terganggu. Tak lain adalah adanya surat dari Presiden yang diterimanya berpuluh-puluh tahun silam. Surat yang hanya bisa dipandanginya setiap hari tanpa paham apa isi dan maknanya  oleh karena dirinya buta huruf. Keinginan yang kuat untuk membaca sendiri surat itulah yang mendorongnya untuk mendesak dengan keras kepala sekolah sekaligus pengajar Jane Obinchu agar mengizinkan dirinya diterima di sekolah dasar.
Keteguhan hati yang sepertinya telah mengalir dalam darah Maruge dan terbentuk dari pengalaman masa lalunya. Masa lalu yang pahit sekaligus traumatis sebagai seorang pejuang kemerdekaan Kenya di tahun limapuluhan. Terlahir sebagai suku Kikuyu, Maruge bersumpah untuk merebut tanah leluhurnya kembali dari tangan kolonialis Inggris. Sumpah yang sungguh-sungguh dipertahankan kendati harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, kehilangan anak istri dan berpindah-pindah dari satu kamp tahanan ke kamp tahanan lainnya, lengkap dengan penyiksaan yang diterimanya tentu saja.
Kebijaksanaan yang diambil kepala sekolah untuk menerima Maruge sebagai salah satu siswanya ternyata mendapat penolakan di mana-mana. Mulai dari masyarakat setempat, pemilik sekolah, sampai tingkat menteri. Mereka berpendapat bahwa tidak seharusnya seorang yang sudah bau tanah berbaur dengan anak-anak mereka, merusak tatanan, dan dikuatirkan memberikan pengaruh buruk. Isu lokal ini kemudian meluas dan memicu kontroversi seiring dengan kedatangan awak media ke sekolah Maruge. Sementara Maruge sendiri sangat menikmati kegiatan belajarnya bersama teman-teman kecilnya.
Upaya untuk memadamkan semangat Maruge, termasuk menyerang kepala sekolah Jane yang dianggap turut berperan menyekolahkan Maruge, ditempuh dengan berbagai cara. Meneror sekolah, mengintimidasi Maruge, memindahkan Maruge ke sekolah dewasa yang ternyata suasananya tidak kondusif, sampai memutasi kepala sekolah ke tempat yang jauh. Belum lagi isu primordial kesukuan turut mewarnai perseteruan Maruge dengan Tuan Kiprouto, sang pemilik SD.


download link: 
http://chart.apis.google.com/chart?chs=250x250&cht=qr&chld=|0&chl=http%3A%2F%2Fmediahide.com%2Fpaste%2F%3Fp%3D2454