Mendengar Pemerintah Kenya mengabarkan kebijakan pendidikan
gratis untuk warganya, sontak anak-anak dengan diantar orang tuanya berduyun-duyun
ke sekolah terdekat untuk mendaftar. Tak terkecuali Maruge yang mendatangi
sekolah dengan antusias untuk mendapatkan hak belajarnya, walaupun harus
berjalan dengan tertatih-tatih. Namun niat mulia ini tidak serta merta berjalan
mulus. Sesampainya di pintu gerbang, yang didapatinya adalah penolakan dari
pihak sekolah. Pihak sekolah bersikeras bahwa kebijakan tersebut hanya untuk
anak-anak usia sekolah, sementara Maruge sendiri sudah berusia 84 tahun.
Sebenarnya apa yang mendasari semangat Kimani Ng’ang’a
hingga bertekad baja untuk duduk di bangku sekolah dalam usia yang sudah
terbilang lanjut, mata sudah rabun, dan pendengaran sudah terganggu. Tak lain
adalah adanya surat dari Presiden yang diterimanya berpuluh-puluh tahun silam.
Surat yang hanya bisa dipandanginya setiap hari tanpa paham apa isi dan
maknanya oleh karena dirinya buta huruf.
Keinginan yang kuat untuk membaca sendiri surat itulah yang mendorongnya untuk
mendesak dengan keras kepala sekolah sekaligus pengajar Jane Obinchu agar mengizinkan
dirinya diterima di sekolah dasar.
Keteguhan hati yang sepertinya telah mengalir dalam darah
Maruge dan terbentuk dari pengalaman masa lalunya. Masa lalu yang pahit
sekaligus traumatis sebagai seorang pejuang kemerdekaan Kenya di tahun
limapuluhan. Terlahir sebagai suku Kikuyu, Maruge bersumpah untuk merebut tanah
leluhurnya kembali dari tangan kolonialis Inggris. Sumpah yang sungguh-sungguh
dipertahankan kendati harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, kehilangan
anak istri dan berpindah-pindah dari satu kamp tahanan ke kamp tahanan lainnya,
lengkap dengan penyiksaan yang diterimanya tentu saja.
Kebijaksanaan yang diambil kepala sekolah untuk menerima
Maruge sebagai salah satu siswanya ternyata mendapat penolakan di mana-mana.
Mulai dari masyarakat setempat, pemilik sekolah, sampai tingkat menteri. Mereka
berpendapat bahwa tidak seharusnya seorang yang sudah bau tanah berbaur dengan
anak-anak mereka, merusak tatanan, dan dikuatirkan memberikan pengaruh buruk.
Isu lokal ini kemudian meluas dan memicu kontroversi seiring dengan kedatangan
awak media ke sekolah Maruge. Sementara Maruge sendiri sangat menikmati
kegiatan belajarnya bersama teman-teman kecilnya.
Upaya untuk memadamkan semangat Maruge, termasuk menyerang
kepala sekolah Jane yang dianggap turut berperan menyekolahkan Maruge, ditempuh
dengan berbagai cara. Meneror sekolah, mengintimidasi Maruge, memindahkan
Maruge ke sekolah dewasa yang ternyata suasananya tidak kondusif, sampai
memutasi kepala sekolah ke tempat yang jauh. Belum lagi isu primordial kesukuan
turut mewarnai perseteruan Maruge dengan Tuan Kiprouto, sang pemilik SD.
download link: http://chart.apis.google.com/chart?chs=250x250&cht=qr&chld=|0&chl=http%3A%2F%2Fmediahide.com%2Fpaste%2F%3Fp%3D2454
